Keterampilan Abad 21 Wajib Dimiliki oleh Calon Guru

INDONESIASATU.CO.ID:

Tantangan pendidikan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan seperti Universitas Sebelas Maret (UNS) memiliki tanggung jawab untuk terus menyesuaikan diri menghadapinya. Sebagai salah satu lembaga pencetak guru, UNS memiliki peran penting untuk menyiapkan generasi yang akan datang dengan tantangan sesuai abad 21 tersebut.

“Tantangan abad 21 ini memiliki karakteristik yang unik. Dalam pembelajaran atau perkuliahan, ada istilah yang mudah untuk menterjemahkan tantangan ini. Istilah ini dikenal sebagai 4Cs (critical thinking, communication, collaboration, and creativity). Empat keterampilan tersebut oleh pemerintah telah diidentifikasi sebagai keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk pendidikan pada abad ke-21 (P21),’ ungkap Koordinator Pelatihan Pendidikan Tinggi Program Pengembangan Inovasi Untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation, Dyah Karyati di acara berbagi praktik baik manajemen berbasis sekolah dan perkuliahan aktif bagi dosen LPTK Mitra di Hotel Haris Surakarta, beberapa hari yang lalu.

Dyah menjelaskan menurut pendapat Hoekstra dan Van Sluijs, tahun 2003, bahwa keahlian mengacu pada pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan wawasan seseorang dalam menyelesaikan masalah atau tugas, sedangkan perilaku adalah jenis perilaku individu yang diperlukan atau tugas yang harus dilakukan.  Berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah dan berpikir kreatif (creative thinking), lebih berbasis pengetahuan. Sementara komunikasi (communication) dan kolaborasi (collaboration) lebih bergantung pada aspek perilaku.

Dalam pelatihan 3 hari hasil kerjasama Program PINTAR Tanoto Foundation dan UNS, 43 dosen dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) dilatih untuk mengembangkan kompetensi-kompetensi tersebut. Mulai dari pelatihan pembelajaran dan diadaptasi dalam perkuliahan aktif. Kemudian mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi dalam lembar kerja. Mendesain lingkungan perkuliahan aktif dan efektif serta mengembangkan budaya baca.

“Mahasiswa calon guru di UNS, nantinya akan pula menyiapkan generasi selanjutnya. Mereka sedekat mungkin kita berikan contoh dan dilatih dari awal dengan cara yang menginspirasi sehingga mereka mampu berkembang secara maksimal untuk menghadapi tantangan siswa-siswa dengan keterampilan yang akan datang. Oleh karena itu, baik pengetahuan, keterampilan dan perilaku harus sudah dipersiapkan dari awal,” ungkap Dyah.

Salah satu peserta Dr. Meti Indrowati, M.Si.  mengungkapkan bahwa awalnya dirinya agak pesimis bagaimana implementasi keterampilan-keterampilan yang sangat kompleks ini. Namun dirinya tetap menyusun scenario. Di hari terakhir pelatihan, saat praktik Bu Meti tetap mendesain perkuliahan dengan hal-hal dari pelatihan. Hasilnya Dr Meti sangat terkejut, dalam waktu singkat mahasiswa mampu untuk mencapai semua target dari scenario yang telah disusun.

  • Whatsapp

Index Berita