Iklan by WartaSekolah
Get Adobe Flash player

Cuaca Hari Ini

Sebagian Berawan

26°C

Jakarta

Sebagian Berawan

Kelembaban: 89%

  • Min Kemungkinan Badai

    31°C 25°C

  • Sen Gerimis berpetir

    32°C 25°C

  • Sel Kemungkinan Badai

    31°C 25°C

Forum Komunikasi Sekolah

Warta Sekolah | Tokoh
Teladani Tokoh Buya Hamka PDF Cetak E-mail Dibaca: 74
PostAuthorIcon Ernest    PostDateIcon Minggu, 29 Januari 2012 19:55

Payakumbuh, Padek—Jika ada pertanyaan, apa lembaga zakat paling tua di ormas Muhammadiyah? Badan Pelaksana Urusan Zakat, Infaq dan Shadaqah atau BP-UZIS adalah jawabannya. Lahir di Payakumbuh, Sumbar, 17 tahun silam, tidak sedikit mata rantai kemiskinan yang diputus BP-UZIS. Pengurusnya, sangat hati-hati main panggung di ranah publik. Selalu menjauhi statemen berumah di atas angin. Wajah Haji Esa Muhardanil nampak terharu. Ketua BP-UZIS Muhammadiyah itu tidak menyangka, lembaga zakat yang dikelolanya bersama Syaiful Bahri Rahman, Haji Akmal Syukri, Haji Irwan Boer, Nedi Rinaldi, Koswara Tanamal, Edi Asmar, Bahmir Dt Bandaro Putiah, Ircon , Haji  Chan Jalal, dan Zikriman Zainal, kini sudah berusia 17 tahun.

“Alhamdulillah, BP-UZIS bisa bertahan sampai usia 17 tahun. Ini benar-benar nikmat dari Allah. Kita sangat bersyukur. Tapi kita yakin, kerja belum selesai, belum apa-apa. Gerakan dakwah BP-UZIS yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan ummat, harus terus digelorakan,” ujar Haji Esa didampingi Nedi Rinaldi dan Koswara Tanamal kepada Padang Ekspres, Jumat (27/1).

Bendahara BP-UZIS Haji Akmal Syukri menjelaskan, zakat sebesar Rp240 juta yang diterima tahun 2011, baru dikeluarkan sekitar Rp88,9 juta. Pengeluaran itu berupa beasiswa untuk 22 murid SD, 39 murid SMP/MTS, 30 murid MAN/SMA/SMK dan 78 mahasiswa, serta bantuan modal usaha buat mualaf. “Artinya, masih ada zakat tahun 2011, sebesar Rp151,24 juta,” ujarnya.

Kendati penerimaan zakat dari tahun ke tahun selalu meningkat, namun pengurus BP-UZIS Muhammadiyah berkeyakinan, keberhasilan pengelolaan zakat bukan diukur dari seberapa besar dana terhimpun. Akan tetapi, bagaimana zakat mampu mengangkat harkat dan martabat ummat. “Bagaimana zakat bisa memanusiakan manusia,” imbuh Koswara Tanamal.

Dengan pengalaman selama 17 tahun, BP-UZIS Muhammadiyah menyimpulkan, penyebab tingginya angka kemiskinan di Ranah Minang adalah lemahnya akses sumber daya manusia terhadap informasi dan modal. Mayoritas masyarakat juga tidak memiliki aset apapun, sebagai agunan meminjam modal di perbankan.

Menghadapi kondisi demikian, tidak sedikit masyarakat  memilih jalan pintas, dengan meminjam uang kepada rententir. Tapi cara instan ini justru membuat mereka terjebak persoalan baru. “Tidak sedikit masyarakat kita yang  gali lubang-tutup lubang. Tidak sedikit pula, hutang-hutang itu yang dibayarkan BP-UZIS,” ujar Haji Esa.

Agar kondisi ini tidak terjadi terus-menerus, BP-UZIS memandang, pengembangan sumber daya manusia berupa bantuan biaya pendidikan bagi anak yang berasal dari keluarga miskin, harus dijadikan sebagai langkah terprogram. “Ke depan, BP-UZIS sebagai lembaga filantropi Islam, akan tetap menjadi pintu bagi anak-anak miskin, dalam menggapai cita-cita,” ujar Haji Esa.

Haji Esa juga yakin, BP-UZIS Muhammadiyah yang akan berganti nama menjadi LAZIS Muhammadiyah (sebuah pergantian nama yang cukup berat bila dikaitkan dengan sejarah-red), akan menjadi lembaga besar. “Ini tinggal persoalan proses dan kesungguhan. Apakah kita mau sungguh-sunguh atau tidak. Apakah kita mau aktif atau tidak mengurus lembaga amil zakat,” ucapnya.

Seiring usia 17 tahun, BP-UZIS yang sering melakukan kaderisasi terhadap mustahiq dengan menggandeng Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Harian Pagi Padang Ekspres dan Bank Indonesia Padang, akan menggelar kajian ilmiah, Minggu (29/1) ini.

Kajian ilmiah dan pembinaan Mustahiq itu, mengangkat topik “Keteladanan Buya Hamka Untuk Indonesia, Dulu, Kini dan Akan Datang”. Kajian ilmiah BP-UZIS Muhammadiyah Payakumbuh dan Limapuluh Kota bekerja sama LAZISMU Sumbar itu, menampilkan dua pembicara yang kaya pengalaman di dunia masing-masing.

Kedua pembicara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Drs H Dasril Ilyas dan Direktur Utama Padang Ekspres, Sutan Zaili Asril. Kedua pembicara, akan mengupas banyak hal tentang keteladanan Buya Hamka. Bagi Sutan Zaili Asril yang wartawan senior Sumbar, mengupas soal Hamka, tentu sudah tidak asing lagi.

Maklum saja, Zaili yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, baru saja menggagas syukuran atas gelar pahlawan  nasional buat Buya Hamka, Muhammad Natsir dan MR Syafruddin Prawiranegara. Zaili yang kenyang makan asam-garam jurnalistik Indonesia, juga diyakini akan memberi inspirasi baru bagi kader Muhammadiyah. Seminar ini akan dihadiri sekitar 80 orang mahasiswa serta jajaran Muhammadiyah. 

Zakat untuk Mahasiswa
Terpisah, Sekretaris BP UZIS Muhammadiyah Payakumbuh, Koswara Tanamal, kepada Padang Ekspres, kemarin (28/1) malam, mengatakan, seminar ini digelar hasil rapat pimpinan Muhammadiyah Payakmbuh, sebagai bentuk kegiatan pembinaan mahasiswa.

Para mahasiswa ini adalah mereka-mereka yang selama ini dibantu BP UZIS Payakumbuh. Mahasiswa ini tersebar di Sumbar dan Riau. “Selain itu juga ada di Mesir, Tuban dan Jogyakarta yang selama ini dibantu melalui dana zakat,” ujar Koswara.

Kegiatan ini bertujuan untuk pembinaan akhlak serta bekal agama bagi para mahasiswa. Komunikasi ini, katanya sudah terjalin sejak tahun 2004 dengan Sutan Zaili Asril. Di Payakumbuh, Sutan Zaili Asril sudah dua kali menjadi pembicara. Salah satunya tahun 2011 dalam seminar bertemakan “Kepemimpinan masa kini dan akan datang”.

“Pak Zaili cukup memberikan respon positif bagi mahasiswa dhuafa ini,” aku mantan Presedium Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Limapuluh Kota/Payakumbuh ini.

Dia berharap kegiatan seminar nanti, akan memberikan manfaat yang besar bagi para mahasiswa. Dalam kesempatan itu, juga diserahkan dana zakat Rp60 juta yang dibagikan masing-masing kepada mahasiswa sebesar Rp750 ribu.

Bantuan ini kerja sama Bank Nagari Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan Bank Bukopin Syariah. “Selama ini beberapa bank ini telah membantu kita melalui dana zakat dari karyawannya. Mereka juga memudahkan kita untuk menyalurkan bantuan kepada mahasiswa yang membutuhkan,” kata Koswara.

Tokoh Teladan
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar, Dasril Ilyas, menyambut baik diadakannya seminar ini. Katanya, banyak manfaat yang bisa diperoleh generasi muda. Karena yang dibahas itu adalah tokoh dan teladan.

“Selama ini, banyak anak muda kita tidak tahu bagaimana kiprah orang tua-tua kita dulu sebagai pejuang dan sebagai tokoh, bahkan diakui sebagai pahlawan nasional,” jelasnya.

Dasril dipercaya memberikan topik tentang cara mensyukuri gelar pahlawan nasional yang diterima Buya Hamka. Pengertian syukuran itu kata Dasril, dapat diaplikasikan dengan cara meneladani Buya Hamka.

“Keteladanan itu perlu kita contoh. Beliau adalah tokoh yang istiqamah, yang jujur dan tidak mau kompromi dengan bentuk kebatilan,” katanya. (frv/bis)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Teladani Tokoh Buya Hamka
Get Adobe Flash player
Iklan by Regional Expose